Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?

Oleh: Gungun Mulyawan Nawari

IMG_20150122_055844

Bulan Sabit Bintang telah dikenal secara internasional sebagai simbol Islam. Simbol ini menjadi pelengkap beberapa bendera negara-negara Islam, dan bahkan menjadi lambang resmi organisasi Bulan Sabit Merah Internasional. Ummat Kristen memiliki Salib, Yahudi memiliki Bintang Daud, dan ummat Muslim memiliki Bulan Sabit, benarkah?

Apakah sejarah di balik simbol bulan sabit bintang ini? Menyimbolkan apakah dan apakah artinya dia yang sebenarnya? Bagaimana dan kapan simbol ini dikaitkan dengan Islam? Apakah simbol ini simbol yang valid untuk Islam?

Barangkali benar, bahwa dengan simbol ini adalah salah satu jalan kita mengenali diri kita sendiri dan meskipun mungkin sebagian dari kita menolak menganggap bulan sabit bintang ini sebagai simbol Islam, adalah ada baiknya kita mengetahui apakah sesungguhnya ia itu. Bagaimana ia kemudian dianggap sebagai simbol Islam dan lain-lain pertanyaan yang bisa diajukan.

Di dalam wikipedia disebutkan bahwa symbol “is an object that represents, stands for, or suggests an idea, visual image, belief, action, or material entity. Symbols take the form of words, sounds, gestures, or visual images and are used to convey ideas and beliefs. For example, a red octagon may be a symbol for “STOP”. On a map, a picture of a tent might represent a campsite. Numerals are symbols for numbers. Personal names are symbols representing individuals. A red rose symbolizes love and compassion.” Atau simbol “adalah sebuah objek yang merepresentasikan, berarti, menyiratkan sebuah gagasan, citra gambar, keyakinan, tindakan, atau entitas material tertentu. Simbol-simbol mengambil bentuk kata-kata, suara, gestur, atau citra-citra visual dan digunakan untuk meyakinkan gagasan-gagasan dan keyakinan-keyakinan. Contohnya, sebuah oktagon berawarna merah bisa jadi simbol untuk “STOP/BERHENTI”. Dalam sebuah peta, sebuah gambar tenda bisa berarti menunjukkan tempat perkemahan. Angka-angka menunjukkan jumlah. Nama-nama seseorang adalah simbol yang merepresentasikan individu-individu tertentu. Setangkai bunga mawar merah melambangkan cinta dan gairah.”

Ernst Cassirer dalam buku “An Essay on Man” yang telah diindonesiakan oleh Alois A. Nugroho dengan judul MANUSIA DAN KEBUDAYAAN: Sebuah Esei Tentang Manusia, menyebutkan bahwa “Simbol – bila diartikan secara tepat – tidak dapat dijabarkan menjadi tanda semata-mata. Tanda dan simbol masing-masing terletak pada dua bidang pembahasan yang berlainan: tanda adalah bagian dari dunia fisik; simbol adalah bagian dari dunia-makna manusia. Tanda adalah “operator”, simbol adalah “designator”. Tanda, bahkan pun bila dipahami dan dipergunakan seperti itu, bagaimanapun merupakan sesuatu yang fisik dan substansial; simbol yang hanya memiliki nilai fungsional.”[1]

Dr. Oemar Amir Hoesin dalam buku KULTUR ISLAM menyebutkan bahwa “Di beberapa negeri Islam, ia (simbol Bulan Sabit Bintang, red.) telah menjadi lambang kebangsaan. Umpamanya di Turki, Mesir, Pakistan dan lain-lainnya, telah menjadi lambang negara, yang diukirkan pada bendera kebangsaan. Ada beberapa orang pandai yang mengatakan, lambang ini, berasal dari Khalifah Umar bin Khattab. Asal mulanya, dari suatu rencana penyiaran Islam yang tidak menggunakan kekerasan. Hal ini diujudkan dengan rupa bulan, yang mempunyai lambang damai dan romantis. Jadi penyiaran Islam itu akan dilakukan dengan dasar kasih sayang. Dunia ini, merupakan bulatan penuh dari sebuah bulatan purnama. Mulanya, ia timbul berbentuk bulan sabit. Pada akhirnya pun, ia berbentuk bulan sabit kembali. Akan tetapi, sabit permulaan melengkung ke atas. Pada bentuk bulan sabit penghabisan, melengkung ke bawah. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan Islam, pada mulanya berbentuk bulan sabit pertama.”[2]

Dr. Oemar Amir Hoesin juga menyebutkan bahwa “Kalau dianggap Lautan Tengah sebagai titik peradaban dunia pertama, maka dapat ditarik sebuah lingkaran bulat sekelilingnya. Dalam lingkaran itu akan dapat kita jumpai dunia Eropa dan Asia Tengah. Sekarang kita lihat dalam khayal kita (bayangkan, pen.) bentuk bulan sabit Islam. Daerah putih, yang merupakan bulan sabit itu, adalah tujuan perkembangan Islam. Tangan kanan melengkung dari Yerussalem sampai ke pusat Eropa, dengan menyeberang selat Bhosporus dan Konstantinopel. Tangan kiri melengkung ke titik pertemuan, dengan tangan kanan ke Eropa, dengan melalui Spanyol, terus ke pegunungan Pyranea. Kemudian daerah-daerah hitam, yang bulannya belum timbul, itulah daerah bukan Islam. Ke tempat itulah Islam akan disiarkan…”[3]

Meski Dr. Oemar Amir Hoesin dalam artikel yang sama menyebutkan bahwa “Orang menyangka, Khalifah Umar mendapat ilham tentang rencana ini dari Nabi Muhammad sendiri. Kemungkinan ini dibuktikan dengan sejarah. Tiap-tiap peperangan yang dihadapi umat Islam di zaman Nabi, pasukan-pasukan dibagi-bagi menurut jenisnya. Tiap-tiap jenis kepala pasukan, mengibarkan di hadapan pasukannya sebuah bendera yang bentuknya dipilih oleh mereka sendiri. Sebanyak pasukan yang ada, sebanyak itu pula bendera. Nabi Muhammad sendiri, mempunyai pasukan sendiri. Ia memilih, bendera yang memakai bulan sabit dengan bintang di atasnya.”[4] Namun beliau tidak menyebutkan hadits, perawi maupun jalur periwayatannya. Bahkan bahan bacaan yang beliau daftarkan di belakang buku tersebut dapatlah diperkirakan bahwa hal cerita itu diragukan keabsahannya.

Lain dengan Dr. Oemar Amir Hoesin, beberapa sumber justru menyebutkan bahwa simbol Bulan Sabit Bintang sebenarnya telah ada ribuan tahun sebelum Islam. Informasi mengenai asal-usul simbol ini sulit dipastikan, namun kebanyakan sumber sepakat bahwa simbol langit kuno ini telah digunakan oleh bangsa-bangsa Asia Tengah dan Siberia dalam peribadatan mereka kepada matahari, bulan dan dewa-dewa langit. Juga terdapat laporan bahwa simbol bulan sabit bintang ini digunakan untuk merepresentasikan dewi orang Kartagi – Tanit, atau dewi Yunani – Diana atau Artemis.Tasbih Bulan Sabit

Simbol bulan sabit dan bintang ini tidak pernah digunakan ummat Muslim awal sampai akhirnya digunakan Kesultanan Utsmani secra umum. Inilah yang membuat simbol bulan sabit dan bintang ini menjadi sesuatu yang diafiliasikan dengan dunia Muslim. Ketika orang-orang Turki menaklukkan Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1453, mereka mengadopsi simbol dan bendera kota yang telah ada. Legenda menngungkapkan bahwa sang pendiri Kesultanan Utsmani, Usman, bermimpi dimana bulan sabit membentang dari satu sisi bumi ke sisi bumi lainnya. Karena menganggap mimpi itu sebagai pertanda baik, dia memilih untuk memelihara bulan sabit itu dan menjadikannya sebagai simbol dinastinya. Terdapat sebuah spekulasi bahwa lima titik dalam bintang itu merepresentasikan lima rukun Islam, namun itu hanya dugaan. Lima titik itu bukanlah standar pada bendera-bendera Utsmani, dan sebagaimana akan anda lihat, hal itu bukanlah standar pada bendera-bendera yang digunakan di dunia Muslim hari ini.

Simbol Bulan Sabit Bintang di Antara Bangsa-bangsa Kuno

artemis
Bulan Sabit dalam Mitologi Yunani Kuno

Bulan Sabit adalah salah satu simbol tertua yang dikenal dalam sejarah manusia. Bersama dengan matahari, simbol ini muncul pada segel bangsa Arkadia pada masa sebelum 2300 SM dan sebelum milenium kedua Masehi – simbol dewa Bulan Mesopotamia Nanna di Sumeria dan Sin di Babylonia, – Sin adalah “Lampu Langit dan Bumi”. Bulan Sabit sangat dikenal di Asia Tengah dan ditranspantasikan oleh bangsa Phoenisia pada abad ke-8 SM sampai Kartagi (sekarang Tunisia). Bulan Sabit Bintang juga muncul pada koin masa pra-Islami di Arabia Selatan. Bulan Sabit juga digunakan di koloni Yunani, Byzantium. Setelah itu, simbol ini menjadi salah satu simbol Kekaisaran Byzantium dan khususnya Konstantinopel. Bahkan, selama Perang antara Byzantium dan Utsmani, bulan sabit digunakan secara simultan oleh kedua belah pihak baik orang-orang Byzantium maupun Sultan-sultan Utsmani.

Anna Notaras, puteri Megas Doux dari kekaisaran Byzantium, Loukas Notaras, setelah jatuhnya Konstantinopel dan lari ke Itali, membuat segel dengan lambang Singa menggenggam di atasnya bulan sabit salib atau pedang.

Bulan Sabit Bintang di Kesultanan Utsmani

image002Sebelum Islam, bulan sabit adalah simbol bagi bangsa Sassaniah (si sekitaran Persia) dan setelah Islam menaklukkan negeri Persia, bulan sabit diadaptasi oleh Muslim Arab dan kemudian oleh bangsa Muslim lainnya. Pada abad ke-12 bulan sabit dan bintang diadopsi oleh orang-orang Turki dan sejak saat itu digunakan oleh Kesultanan-kesultanan Muslim yang berkuasa seperti Utsmani dan Mughal. Ini adalah simbol historis untuk bangsa-bangsa Turki, khususnya Kesultanan Utsmani. Meskipun demikian, bangsa-bangsa Turki pra-Islam seperti suku-suku Göktürk telah biasa menggunakan gambar bulan sabit dan bintang ini pada koin-koin mereka.[5] Pun demikian dengan Kerajaan Aksum, Habasyah atau Ethiopia sekarang, yang dahulu kala mempraktikkan agama polytheistic, setelah masuk kristen pada abad 330 M, mereka mengganti bulan sabit dalam koin mereka dengan salib.

Kota Byzantium (yang kemudian dikenal dengan nama Konstantinopel dan Istanmbul) mengadopsi simbol bulan sabit bintang ini. Menurut beberapa laporan, mereka memilih simbol ini untuk menghormati dewi Diana. Yang lainnya mengindikasikan untuk mengingat peperangan di masa lalu dimana bangsa Roma mengalahkan orang Gothik pada hari pertama bulan yang berdasarkan kalender lunar. Dalam berbagai event, bulan sabit melengkapi bendera kota itu bahkan sebelum lahirnnya Kristen.

Ay Yιldιz, Alsancak dan Lambang-lambang Lain yang Berkembang di Antara Bangsa Turki

Ay Yιldιz (yang berarti “bulan bintang”) atau Alsancak (“bendera merah”), adalah bendera Republik Turki yang digambarkan dengan sebuah gambar bulan sabit putih dan bintang dengan latarbelakang merah.[6] Kesultanan-Utsmani sendiri menggunakan bermacam bendera, khususnya bendera-bendera untuk angkatan laut di sepanjang sejarah mereka.

Pasukan-pasukan Utsmani pra-modern biasa juga menggunakan standar buntut kuda atau tugh alih-alih menggunakan bendera. Standar-standar itu masih digunakan berdampingan dengan digunakannya bendera sampai abad ke-19 M. Sebuah gambaran mengenai tugh ditemukan dalam buku Relation d’un voyage du Levant oleh Joseph Pitton de Tournefort (1718).[7]Tugh, 18th century, height 346cm, Topkapi Palace

Ottoman flag, Zulfikar type, captured at Vienna in 1683 by Atanazy MiaczynskiBendera-bendera perang baru mulai digunakan pada abad ke-16. Pada abad ke-16 dan abad ke-17, bendera-bendera perang Utsmani seringkali bergambar pedang Zulfikar bermata dua, yang oleh orang Barat seringkali disalahpahami sebagai gambar gunting.[8] Bendera Zulfikar diklaim telah mulai digunakan oleh Selim I (w. 1520) yang dipamerkan di Museum-Topkapi. Dua buah bendera Zulfikar juga tergambar pada sebuah piring yang didedikasikan kepada bendera-bendera Turki dalam vol. 7 dari buku Bernard Picart, Cérémonies et coutumes religieuses de tous les peuples du monde (1737), yang dihubungkan kepada para Janissary dan Pasukan-berkuda-Utsmani.

Simbol bulan-sabit nampak dalam bendera-bendera yang dihubungkan kepada bangsa Tunisia pada permulaan abad ke-14 (Libro de conoscimiento), jauh sebelum Tunisia jatuh di bawah kekuasaan Utsmani pada tahun 1574. Museum Angkatan Laut Spanyol di Madrid memperlihatkan dua buah bendera angkatan laut Utsmani yang bertanggal 1613; keduanya ujung-ujungnya seperti ekor layang-layang, yang satu berwarna hijau dengan bulan sabit di dekat geretan, yang lainnnya putih dengan dua strip berwarna merah dekat pinggir dan sebuah bulan sabit di dekat geretan.[9]

Diperkirakan, bintang dan bulan sabit yang digunakan dalam bendera-bendera Utsmani abad ke-19 diadopsi dari orang-orang Byzantium. Franz Babinger (1992) memperkirakan kemungkinan ini, dia mencatat bahwa bulan sabit dimiliki tradisi yang lebih tua juga oleh suku-suku Turki di pedalaman Asia.[10] Bulan sabit dan bintang ditemukan dalam pembuatan uang logam Byzantium sejak abad ke-4 SM[11] dan tergambar pada koin kekaisaran Byzantium dan tameng santo-santo pejuang Kristen sampai abad ke-13.[12] Parsons (2007) mencatat bahwa bintang dan bulan sabit bukanlah motif yang tersebar pada pembuatan uang logam Byzantium pada masa penaklukan Utsmani.[13] Para sejarahwan Turki cenderung menekankan kepurbakalaan simbol bulan sabit (bukan bintang dan bulan sabit) di antara negara-negara Bangsa-Turki-Awal di Asia.[14]

Bulan sabit berwarna putih dengan bintang bersudut delapan di atas dasar warna merah digambarkan sebagai bendera “Turkish Man of War” dalam karya Colton, Delineation of Flags of All Nations (1862). Karya Steenbergen, Vlaggen van alle Natiën di tahun yang sama memperlihatkan bintang bertsudut enam. Sebuah piring dalam Webster’s Unabridged tahun 1882 memperlihatkan bendera dengan bintang bersudut delapan dan dilabeli “Turkey, Man of war”. Bintang bersudut lima nampaknya hadir bersamaan varias-variasi ini setidaknya dari tahun 1857. Zanamierowski (1999) menyebutkan tahun 1793 sebagai kali pertama diperkenalkannya bendera berwarna merah dengan bintang bersudut lima, namun sumber-sumber dari mana pernyataan ini didasarkan tidak disebutkan.[15]

Desain bintang-bulan ini nanti akan menjadi dasar untuk desain bendera-nasional negara pengganti Kesultanan Utsmani pada abad ke-20, yang secara resmi diperkenalkan pada tahun 1844, sebagai bagian reformasi Tanzimat. Dalam reformasi Tanzimat, bendera-bendera itu didisain ulang dengan gaya pasukan tentara Eropa saat itu. Bendera Angkatan-Laut-Utsmani seperti merahnya institusi sekuler dan hijau untuk menunjukkan relijiusitas. Karena reformasi menghapuskan bermacam sub-sub kesultanan, pasha-pasha, beylik-beylik dan keemiran-keemiran, sebuah bendera didisain untuk menggantikan bermacam-macam bendera yang digunakan entitas-entitas itu dengan satu bendera nasional. Hasilnya adalah bendera berwarna merah dan putih dengan bulan sabit dan bintang, yang mana menjadi pendahuluan untuk bendera Turki sekarang. Sebuah bendera merah terang diperkenalkan sebagai bendera-sipil untuk semua subjek Utsmani.

Standar kerajaan memperlihatkan tughra sultan, seringkali dalam latar belakang warna merah muda atau merah terang. Sementara bendera Sultan pada tahun 1862 adalah berwarna hijau dengan tujuh sudut garis-garis tipi, merah dan horizontal. Standar yang digunakan oleh Khalifah terakhir, Abdülmecid II, mempertahankan bendera dengan sebuah bintang-dan-bulan sabit dalam putih pada latarbelakang bentuk oval merah dengan sebuah ornamen bersinar, semuanya dalam warna putih.[16]

Setelah berdirinya Republik Turki pada tahun 1923, negara Turki baru ini mempertahankan bendera terakhir Kesutanan Utsmani tahun 1844. Standarisasi-standarisasi yang proporsional baru diperkenalkan dalam Aturan Bendera Turki (Bahasa-Turki: Türk Bayrağı Kanunu) pada tanggal 29 Mei 1936.

Bulan Sabit Bintang dan Sejarah Islam

260px-Ottoman_Empire_declaration_of_war_during_WWISelama ratusan tahun, Kesultanan Utsmani menguasai dunia Muslim. Setelah berabad-abad peperangan dengan Kristen Eropa, dapat dipahami bagaimana simbol-simbol Kesultanan ini menjadi berjalinkelindan dalam pikiran orang-orang dengan iman Islam secara keseluruhan.

Masyarakat Muslim awal tidaklah memiliki simbol apapun demikian juga sambai hari ini dan di masa yang akan datang jika dengannya dia menginginkan sesuatu yang lebih daripada penanda. Pada masa Nabi Muhammad (SAW), pasukan-pasukan dan kabilah-kabilah Islam mengibarkan bendera-bendera dengan warna-warna yang kuat (umumnya hitam, hijau, atau putih) untuk tujuan agar mudah dikenali. Pada generasi selanjutnya, para pemimpin Muslim terus memakai bendera-bendera sederhana dengan warna-warna hitam, putih, atau hijau dengan tanpa memberikan tanda, tulisan, atau simbolisme apapun padanya.

Disebutkan dalam buku SIRAH NABAWIYAH karya Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri bahwa “pada akhir tahun 6 H, setelah kembali dari Hudaibiyyah, Rasulullah (SAW) menulis surat yang ditujukan kepada beberapa raja, menyeru mereka kepada Islam. Saat hendak menulis surat-surat yang ditujukan kepada beberapa raja itu, ada seseorang yang memberitahu, “Sesungguhnya mereka tidak akan menerima kecuali jika surat itu disertai cincin stempel.” Karena itu beliau (SAW) membuat cincin stempel yang terbuat dari perak, dengan cetakan yang berbunyi “Muhammad Rasul Allah.” Cetakan tulisan ini tersusun dalam tiga baris. “Muhammad satu baris, “Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris, dengan susunan yang dimulai dari bawah.[17]

Berdasarkan sejarah ini, banyak orang Muslim menolak menggunakan bulan sabit sebagai simbol Islam. Iman Islam secara historis tidak memiliki simbol apapun, dan banyak yang menolak menerima apa yang secara essensial adalah ikon pagan. Ini tentu saja tidak seragam digunakan di kalangan ummat Muslim.

Bersambung

[1] Ernst Cassirer, MANUSIA DAN KEBUDAYAAN: Sebuah Esei Tentang Manusia, Penerbit PT. Gramedia Jakarta, Cet. Ke-2, September 1990. Hal. 48.

[2] Dr. Oemar Amir Hoesin, KULTUR ISLAM, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta. Cet. I th. 1964. Hal. 151-152 (Ejaan disesuaikan).

[3] Idem

[4] Idem

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Crescent

[6] http://www.cliffsnotes.com/cliffsnotes/history/what-is-the-history-and-meaning-of-turkeys-fla

[7] Lors des campagnes, la marche du Grand Vizir (1er ministre nommé par le Sultan de Constantinople) est précédée par trois Étendards ou Queues de cheval terminées chacune par une pomme dorée, ils sont l’enseigne militaire des Othomans appelée Thou ou Thouy. On dit qu’un Général de cette nation, ne sachant comment rallier ses troupes qui avaient perdu tous ses Étendards, s’avisa de couper la queue d’un cheval et de l’attacher au bout d’une lance; les soldats coururent à ce nouveau signal et remportèrent la victoire… cited after Marc Pasquin, 22 November 2004, crwflags.com; bandingkan juga facsimile image pada BNF website. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[8] misalnya Jaques Nicolas Bellin, Tableau des Pavillions de le nations que aborent à la mer (1756). http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[9] Nozomi Karyasu & António Martins, 8 October 2006 pada Flags of the World. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[10] “Nampaknya mungkin, meski tidak pasti, bahwa setelah penaklukan Mehmed, dia mengambil alih bulan sabit dan bintang sebagai lambang kedaulatan orang-orang Byzantium. Bendera bulan setengah saja di atas merah darah, menurut dugaan dianugerahkan kepada para Janissari oleh Emir Orhan, adalah lebih tua, sebagaimana diperlihatkan oleh bermacam referensi yang bertanggal dari sebelum tahun 1453. Namun karena bendera-bendera ini tak ada bintangnya, yang mana sama dengan bulan setengah yang ditemukan dalam koin-koin kotapraja Sassaniah dan Byzantium, hal ini bisa jadi dianggap sebagai innovasi Mehmed. Nampak jelas bahwa di pedalaman Asia suku-suku nomaden Turki telah menggunakan bulan setengah saja sebagai lambang untuk beberapa waktu di masa lalu, namun jelas juga bahwa bulan sabit dan bintang terlihat hanya hanya untuk periode yang lebih kemudian. Terdapat alasan yang bagus untuk meyakini bahwa tradisi-tradisi kuno Turki dan Byzantium dikombinasikan dalam lambang Ottoman dan, di kemudian hari, Kedaulatan Republik Turki sekarang.” Franz Babinger (William C. Hickman Ed., Ralph Manheim Trans.), Mehmed the Conqueror and His Time, Princeton University Press, 1992, hal 108. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[11] Nigel Wilson, Encyclopedia of Ancient Greece, Routledge, 2013, hal. 136. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[12] Piotr Grotowski, Arms and Armour of the Warrior Saints: Tradition and Innovation in Byzantine Iconography (843–1261). Brill, 2010, hal. 249, 250. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[13] John Denham Parsons, The Non-Christian Cross, BiblioBazaar, 2007, hal 69: Lebih lagi, pertanyaannya adalah apakah simbol konstantinopel pada saat itu adalah yang ditangkap oleh bangsa Turki. Dan inspekdi koin-koin yang dibahas oleh para penguasa Kristen kota itu selama ratusan tahun lebih dalam kekuasaan mereka, akan nampak keterangan bahwa meski bulan sabit dengan salib bersama tanduk-tanduknya muncul sekali-kali pada koin-koin kekaisaran-kekaisaran Timur, dan dalam satu atau dua contoh kita lihat sebuah salib dari empat tangan-tangan sejajar dengan ekstrimitas masing-masing menembus sebuah bualn asbit, diragukan jika satu contoh apa yang disebut simbol “bintang dan bulan sabit” dapat ditemukan atas mereka.”—John Denham ParsonsThe Non-Christian Cross. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[14] “Ini jelas, bagaimanapun, apapun asal-usulnya, bulan sabit digunakan negara-negara Turki di berbagai wilayah Asia, dan benar-benar tak ada alasan bahwa simbol ini sampai pada kekasiaran Ottoman melalui Byzantium” Mehmet Fuat Köprülü, Gary Leiser (Trans.), Some Observations On The Influence Of Byzantine Institutions On Ottoman institutions, Türk Tarih Kurumu, 1999, hal 118. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[15] crwflags.com: “Terdapat bendera Ottoman dengan bulan sabit dan bintang bersudut tujuh. Dimana-mana anda dapat membaca bahwa bintang ini kemudian digantikan dengan bintang bersudut lima. Namun kapan, dan kenapa? kami (Archiv für Flaggenkunde) hanya menemukan (sampai sekarang) bahwa bintang bersudut lima selalu hadir dalam bendera kerajaan. Bintang bersudut lima selalu menunjukkan kerekan, sebagaimana ditunjukkan beberapa grafik bendera, dan juga grafik bendera Turki tahun 1857 dan 1905.” Ralf Stelter, 27 Juni 1999 “Zanamierowski [zna99] menyatakan bahwa tahun 1793 sebagai waktu diperkenalkannya bendera berwarna merah dengan bulan sabit dan bintang (dipradugkan sebagai beberapa rupa bendera untuk identitas nasional) dan tahun 1844 untuk perubahan dari bintang bersudut delapan kepada bintang bersudut lima, (bukan berarti saya meragukannya) namun saya tak pernah mampu menemukan sumber lain untuk memastikan maupun membantah informasi ini?” Christopher Southworth, 18 Januari 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[16] http://en.wikipedia.org/wiki/Flags_of_the_Ottoman_Empire

[17] Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, SIRAH NABAWIYAH, Pustaka al-Kautsar, cet. Ke-8, th. 2014, hal. 405

Advertisements

One thought on “Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s